Parenting VOC vs Gentle Parenting: Mana yang Lebih Cocok untuk Moms dan Si Kecil?

Dalam dunia parenting modern, istilah gentle parenting semakin populer dan banyak diperbincangkan. Kalau Moms sesekali scroll sosial media pasti istilah ini tak luput diperbincangkan. Di sisi lain, masih banyak juga orang tua yang secara tidak sadar menerapkan pola asuh yang menyerupai gaya kolonial lama di Indonesia sering disebut sebagai “parenting VOC.” Meski istilah ini terdengar lucu dan tidak resmi, parenting VOC merujuk pada pola asuh yang kaku, otoriter, dan berfokus pada kepatuhan mutlak dari anak kepada orang tua.

Lalu sebenarnya apa sih perbedaan utama antara parenting VOC dan gentle parenting? Dan mana yang lebih tepat untuk Moms terapkan ke Si Kecil? Yuk kita cari tahu bersama, Moms!

Baca Juga: Cara Mencuci Piring yang Tepat, Jamin Bersih dan Cepat

Apa Itu Parenting VOC?

Istilah “parenting VOC” sebenarnya merupakan istilah kekinian yang dipopulerkan netizen untuk menggambarkan gaya pengasuhan yang keras, tegas berlebihan, dan minim kompromi. Dalam praktiknya, orang tua dengan gaya ini sering menganggap bahwa anak harus selalu patuh tanpa perlu dijelaskan alasannya.

Contoh paling umum: “Pokoknya jangan lari-larian!” atau “Kalau Mama bilang diam, ya diam!” apakah tidak asing di telinga? Atau Moms mungkin pernah mengucapkannya?

Tujuannya tentu baik yakni agar anak disiplin dan tahu batas. Namun pendekatan seperti ini sering kali membuat Si Kecil takut untuk berekspresi dan tidak belajar memahami makna di balik aturan tersebut. Saat Si Kecil tumbuh besar bakal beranggapan bahwa emosi mereka tidak valid. Efeknya ia bisa jadi pribadi yang memendam perasaan, sulit terbuka, juga merasa bersalah waktu sedih atau marah.

Gentle Parenting adalah Pilihan yang Lebih Sadar

Gentle parenting adalah pendekatan pengasuhan yang mengedepankan empati, komunikasi dua arah, serta penghargaan terhadap emosi dan perkembangan anak. Dalam gentle parenting, sangat penting bagi Moms untuk memahami bahwa anak adalah individu utuh yang sedang belajar mengenali dunia dan dia itu sendiri.

Misalnya alih-alih berkata, “Jangan nangis terus, malu orang lihatin” Moms bisa bilang, “Mama tahu kamu sedih, yuk kita cari tempat tenang dulu.”

Dengan begitu, Si Kecil merasa tenang secara emosional dan bukan sekadar menerima perintah. Gentle parenting adalah bukan tentang membiarkan anak semaunya, tetapi tentang mengatur dengan kasih sayang dan konsistensi.

Baca Juga: Melahirkan Bisa Pakai BPJS Kesehatan, Yuk Simak Cara dan Syaratnya!

Mengapa Gentle Parenting Lebih Relevan Saat Ini?

Di era modern yang serba cepat, anak-anak butuh ruang aman untuk mengekspresikan diri dan belajar mengatur emosinya. Gentle parenting memberikan fondasi yang kuat bagi perkembangan mental dan sosial anak.

Penelitian pun menunjukkan bahwa anak yang tumbuh dengan pendekatan gentle parenting cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi, kemampuan menyelesaikan konflik secara sehat, dan lebih mudah membangun hubungan yang positif di masa depan tak hanya dengan orang lain tapi dengan diri sendiri.

Gentle parenting adalah sebuah proses panjang yang membutuhkan kesabaran, tapi hasilnya sangat berarti.

Jadi, Moms Harus Pilih yang Mana?

Tak perlu merasa bersalah jika sebelumnya Moms cenderung lebih tegas atau “VOC-style”. Dunia parenting memang penuh belajar dan bertumbuh. Sehingga membutuhkan trial dan error. Yang terpenting Moms kini tahu bahwa ada pendekatan yang lebih empatik dan sadar, yaitu gentle parenting.

Moms bisa mulai dengan langkah kecil seperti mendengarkan perasaan Si Kecil tanpa langsung menghakimi atau memberi ruang untuk berdiskusi saat ia membuat kesalahan.

Yuk perlahan ubah cara pandang dan pendekatan kita. Karena membesarkan anak bukan hanya soal aturan, tapi juga soal hubungan. –MR