Matematika bagi sebagian anak merupakan pelajaran yang rumit. Bahkan mereka yang mengalami kesulitan dalam belajar berhitung cenderung tidak suka dengan matematika. Mengapa bisa begitu? Apa selama ini cara Moms mengajari anak matematika belum tepat?
Pada instagram live Little Friends bersama Nur Komala Eka Sari, certified mathematic montessori elementary (23/07), dijelaskan bahwa alasannya adalah pola pikir orang tua yang kurang tepat soal matematika. Dalam pandangan orang dewasa matematika hanya tentang angka dan rumus. Sehingga orang tua malah menyuruh anak untuk menghafal angka dan mengoperasikan hitungan. Padahal mengajarkan matematika harus dilakukan secara bertahap, bisa dimulai sejak Si Kecil masih bayi.
Dalam Instagram Live yang berjudul “Stimulasi Matematika Sejak Bayi dengan Mainan Multisensori” Moms Eka menjelaskan pentingnya mengenalkan Si Kecil matematika sejak dini. Karena ketika anak lahir mereka bukan kertas kosong, justru memiliki dorongan internal untuk mengembangkan dirinya. Perkembangan otak anak di dua tahun pertama sangat pesat bisa hingga 75%. Enam tahun pertama adalah masa anak mengalami the absorbent mind, yaitu fase di mana Si Kecil memiliki kapasitas luar biasa untuk menyerap informasi dan pengalaman dari lingkungannya. Orang tua bisa memanfaatkan momentum ini dengan memberikan beragam stimulasi. Sebab sebelum belajar menghitung, kebutuhan stimulasi sensori dan kemampuan pra- matematika Si Kecil harus terpenuhi.
Baca Juga: Paternity Leave: Cuti Ayah saat Ibu Melahirkan
Mengajarkan Pra-matematika Sebelum Mengajari Si Kecil Berhitung
Mengajari anak matematika bukan dimulai dari menghafal angka 1-10. Sebelum itu ada konsep-konsep yang harus Si Kecil pahami dulu, berhubungan dengan matematika. Seperti membedakan bentuk, mana yang lingkaran, segitiga, kotak dan lain-lain. Kemudian membedakan ukuran seperti besar kecil, berat ringan, panjang pendek, tebal tipis dan lain sebagainya. Serta membedakan posisi misalnya di bawah, di atas, kanan, kiri, jauh dan dekat. Dengan begitu Si Kecil akan belajar dulu tentang kualitas, lalu kuantitas baru setelah itu belajar angka
Konsep-konsep mendasar ini disebut dengan pra-matematika yaitu kemampuan awal yang membantu anak-anak membangun pemahaman matematika yang lebih kompleks di masa depan. Melansir dari cuemath.com kemampuan pra-matematika yang perlu Si Kecil pelajari di antaranya adalah:
- Mencocokkan (matching)
- Menyortir (making sets & sorting)
- Memilih dan memisahkan yang berbeda (picking the odd one out)
- Menghitung objek dalam grup (counting group objects)
- Membandingkan (comparison)
- Menyusun berurutan (ordering)
- Menulis angka (number patterns)
Moms bisa mulai mengajarkan Si Kecil pra-matematika lewat permainan atau aktivitas sehari-hari. Belajar matematika tidak selalu duduk diam dan menulis di atas kertas. Justru belajar berhitung menggunakan objek yang nyata akan terasa lebih menyenangkan. Sebelum Si Kecil mulai sekolah biarkan konsep pra-matematika ini jadi bagian dalam rutinitasnya sehari-hari. Setelah Si Kecil memiliki dasar yang kuat, Si Kecil akan lebih mudah paham dengan pelajaran matematika di sekolah seperti penjumlahan dan pengurangan.
Baca Juga: Bahaya Asap Rokok Pada Bayi: Bikin Pernapasan Terganggu Sampai SIDS
Langkah Awal Mengajari Anak Matematika Dimulai dari Kesiapan Orang Tua
Menurut Moms Eka sebelum mulai mengenalkan matematika, orang tua harus terlebih dahulu mempersiapkan diri yaitu dengan:
- Mengubah stigma negatif terhadap matematika atau menyelesaikan pengalaman traumatik tentang pelajaran matematika di masa lalu
- Jangan menghambat anak. Contohnya saat Si Kecil main sendiri, jangan mengajak anak ngobrol, karena ketika bermain sendiri sebenarnya anak-anak sedang membangun konsentrasinya.
- Apresiasi proses bukan hasil. Ganti pujian “Anak ibu pintar.” dengan kalimat yang mengapresiasi usaha keras Si Kecil “Nak, kamu sudah berhasil menyusun benda berdasarkan warna, hebat.” atau “Kamu sudah berani mengerjakannya walau sulit, nanti kita coba lagi ya.”
Setelah pandangan orang tua terhadap matematika sudah berubah, baru Moms bisa mulai mengajari anak matematika. Lewat stimulasi yang merangsang perkembangan sensori kemudian mengenalkan konsep pra-matematika. Mengapa harus menstimulasi sensori Si Kecil? Karena pengalaman sensori yang kaya akan membantu Si Kecil memahami konsep abstrak seperti ukuran, bentuk, dan pola dengan lebih konkret. Juga mendukung perkembangan kognitif, termasuk pemikiran logis dan kemampuan pemecahan masalah yang merupakan dasar penting untuk belajar matematika.
Moms bisa menggunakan mainan edukatif yang dirancang untuk memberikan pengalaman sensori sesuai usia dan tahap perkembangan Si Kecil. Moms bisa menemukannya di Little Friends, brand mainan edukatif yang akan menjadi teman Si Kecil bermain. Seperti Sensory Tissue box untuk mengenalkan Si Kecil beragam tekstur dan Stacking Toys Jam Gadang yang mendorong Si Kecil belajar menyusun berurutan.. ~NJ