Istilah burnout lebih umum kita dengar dalam konteks pekerjaan. Namun orang tua juga rentan mengalami kelelahan yang disebut parental burnout. Orang-orang mulai mengenal parental burnout untuk menyebut kondisi kelelahan dalam mengasuh anak. Burnout sendiri adalah kondisi di mana seseorang merasa kelelahan secara mental dan fisik akibat akumulasi stres. Peneliti asal Universitas Katolik Louvain di Belgia, Isabelle Roskam mengatakan bahwa orang tua bisa terkena burnout akibat dari terlalu banyak stres dan kurangnya sumber daya untuk mengatasinya. Ketidakseimbangan ini yang memicu rasa hampa dan lelah berkepanjangan.
Baca Juga: Cara Menjelaskan Bencana pada Anak
Moms dan Dads tentu paham bahwa menjalani peran menjadi orang tua akan sangat melelahkan. Semakin bertambah usia Si Kecil tidak begitu banyak mengurangi tekanan yang Moms hadapi. Hanya bentuk dan tingkatan masalahnya saja yang berubah. Orang tua dengan anak-anak yang masih kecil cenderung lelah secara fisik. Sedangkan orang tua dengan anak remaja cenderung mengalami kelelahan emosional. Meski orang tua sadar mereka berada di bawah tekanan ketika mengasuh anak, tetapi Moms dan Dads tidak selalu menyadari apakah mereka terkena parental burnout atau tidak.
4 Dimensi Mengenal Parental Burnout
Pada tahun 2018 Roskam dan koleganya membuat alat ukur yang disebut Parental Burnout Assessment, setelah melakukan survei pada 900 orang tua yang memastikan dirinya mengalami burnout. Akhirnya munculah 4 dimensi parental burnout:
- Kelelahan dalam menjalankan peran orang tua
- Menjadi sosok orang tua yang kontras berbeda dari diri mereka sebelumnya
- Merasa jenuh dengan peran orang tua
- Menjauhkan diri secara emosional dengan anak-anak
Tahap pertama yang Moms rasakan adalah kelelahan yang luar biasa. Moms ingin memastikan semua urusan dan pekerjaan dapat selesai dengan baik. Hal inilah yang mengganggu jam tidur, memperparah kecemasan dan memancing bad mood. Jika kondisi ini tidak digubris dia akan terus berulang setiap hari.
Mendalami Parental Burnout
Setelah mengenal parental burnout Moms akan memahami mengapa di waktu tertentu Moms ingin rasanya menjauhkan diri dari anak-anak untuk sementara waktu. Serta merasa kehilangan antusiasme dalam mengasuh anak, tidak seperti dulu saat masa awal Si Kecil lahir. Atau Moms merasa bersalah karena tidak menjadi sosok orang tua yang seharusnya. Itu semua adalah gejala parental burnout yang menjadi sinyal untuk Moms sadari.
Namun mengakui diri mengalami parental burnout bukan lah hal yang mudah bagi orang tua. Orang tua yang mengalami kelelahan mental sering merasa terisolasi dan malu. Mereka merasa terjebak dalam rutinitas mengasuh yang tak ada ujungnya dan kebingungan untuk mencari bantuan. Berbeda dengan para pekerja yang bisa meluangkan waktu untuk menjalani hobi atau berlibur untuk memulihkan diri. Orang tua seringkali berpikir tidak bisa melakukannya.
Baca Juga: Cara Membuat Biopori di Rumah, Siap Hadapi Hujan
Meski begitu mengakui diri merasa lelah menjalani peran orang tua adalah langkah pertama yang penting. Karena setelah menyadari kondisi yang dialami, Moms bisa mulai menemukan cara untuk beristirahat, mengambil jeda dan melakukan refleksi. Mencari teman atau orang tua yang mengalami kondisi yang sama pun dapat membantu orang tua merilis emosi dan stres. Membuat Moms dan Dads memiliki support group dan merasa tidak sendirian. ~NJ